Dosen : Atus Syahbuddin, S.Hut., M.Agr., Ph.D.
Selasa, 12 April 2016
Minggu, 03 April 2016
TUGAS MATAKULIAH HERBA DAN PERDU TATAP MUKA VI
Bambu Tali (Gigantochloa
apus) dan Bambu Andong (Gigantochloa
pseudoarundinacea): bambu atau kayu lapis.......????
Oleh
Catur Mulyanto (12/330557/KT/07227)
Bambu tali
termasuk dalam genus Gigantochloa yang memiliki rumpun yang rapat. Nama ilmiah
bambu tali adalah Gigantochloa apus Bl. Ex (Schult.f.) Kurz. Bambu tali dikenal
juga sebagai bambu apus, awi tali, atau pring tali (Berlian dan Rahayu, 1995).
Bambu tali diduga berasal dari Burma dan kini telah menyebar luas ke seluruh
kepulauan Indonesia. Bambu tali tumbuh dengan baik di daerah tropik di dataran
rendah hingga pegunungan dengan ketinggian sampai 1.000 m dpl. Perkembangbiakan
bambu tali dengan akar rimpangnya dan juga dapat diperbanyak dengan potongan
buluhnya (Berlian dan Rahayu, 1995). Bambu tali dapat mencapai tinggi hingga 20
meter lebih. Warna batang bambu tali adalah hijau sampai kekuning-kuningan.
Batang bambu tali tidak bercabang di bagian bawah. Diameter batang antara 2,5
sampai 15 cm, tebal dinding 3 sampai 15 mm, dan panjang ruas atau buluhnya 45
sampai 65 cm. Pemanfaatan batang bambu tali antara 3 sampai 15 meter. Bentuk
batang bambu tali sangat teratur. Pada bukubukunya tampak adanya penonjolan dan
berwarna agak kuning dengan miang berwarna cokelat kehitaman. Pelepah batang
bambu tali tidak mudah lepas meskipun batang tersebut telah berumur tua. Batang
bambu apus dalam keadaan muda dan masih basah berwarna hijau dan tidak keras.
Jika telah kering warnanya menjadi putih kekuning-kuningan, liat, dan tidak
mudah putus atau patah.
Idris et. al.
(1980) menyatakan bahwa bambu tali memiliki kekuatan lentur 502,3 – 1240,3
kg/cm 2 , modulus elastisitas lentur 57.515 – 121.334 kg/cm 2 , keteguhan tarik
1.231 – 2.859 kg/cm 2 , dan keteguhan tekan 505,3 – 521,3 kg/cm 2 . Sifat fisik
dari bambu tali yaitu rebungnya terasa pahit dan dapat dihilangkan dengan cara
merendam dalam lumpur 3-4 hari setelah dipotong. Kemudian hama penyakit yang menyerang bambu
ini berupa Dinoderus minutus sebagai
hama sedangkang penyakit disebabkan oleh Epichloe
bambusae. Budidaya bambu tali sangat mudah dapat dengan biji, stek rimpang
dan stek batang. Manfaat dari bambu ini antara lain untuk pembuatan perkakas
rumah tangga, atap dinding rumah, anyaman dan alat musik tradisional.
Nama daerah
bambu gombong (Indonesia), pring gombong, pring andong, pring surat (Jawa), awi
andong, awi gombong (Sunda). Penyebaran bambu andong ini berada di daerah
Sumatera, Jawa dan Bali.Tumbuh di dataran rendah mencapai ketinggian 1500 m dpl
dan tumbuh baik di daerah tropis yang lembab. Rebung hijau dengan garis-garis
kuning yang tertutup bulu coklat sampai hitam. Tinggi buluh mencapai 7–30 m dan
lurus. Pelepah buluh tertutup bulu coklat, mudah luruh. Biasanya banyak
digunakan untuk bahan bangunan, pipa air dan alat musik tradisional. Perusahaan
bambu telah menggunakannya sebagai bahan baku sumpit (Widjaja 2001). Bambu
andong dapat diproduksi setelah rumpun berumur lima tahun. Pada umur lima tahun
terdapat 16 batang/rumpun dan setelah itu setiap tahun dapat dipanen 8-12
batang/rumpun/tahun dengan rotasi 2 tahun. Perbanyakan tanaman dapat
menggunakan stek rimpang, stek batang, stek cabang dan biji (Sutarno 1996).Manfaat
dari bambu ini antara lain untuk bahan bangunan, kerajinan tangan, Furniture,
sumpit, tusuk gigi, tusuk sate, kertas, pulp, arang bambu. Selain itu kedua
bambu itu juga sering digunakan dalam hal untuk menjadi papan lamina.
Referensi:
Berlian Nur VA. dan Estu Rahayu.
1995. Jenis dan Prospek Bisnis Bambu.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Dr. Hadi Sutarno, Prof. Dr. Sri Setyati
Harjadi. dan Ir. Sutiyono.1996. Paket
Modul Partisipatif : Budidaya Bambu Guna Meningkatkan Produktivitas Lahan.
Seri Pengembangan PROSEA 7.1. Yayasan PROSEA. Bogor
Idris AA, Firmanti A, dan Purwito. 1994.
Penelitian Bambu Untuk Bahan Bangunan.
Makalah Seminar Strategi Penelitian Bambu Indonesia. Bogor.
Ir. Bambang Priyono, M.Si. 2010. Budidaya Bambu. Balai Pengelolaan Daerah
Aliran Sungai Opak Progo. Yogyakarta.
Puja Hindrawan. 2005. Pengujian Sifat Mekanis Panel Struktural
dari Kombinasi Bambu Tali (Gigantochloa apus Bl. ex. (Schult. F) Kurz) dan Kayu
Lapis.Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor. Bogor
Sutarno, H., S.S. Harjadi dan Sutiyono.
1996. Paket Modul Partisipatif: Budidaya
Bambu Guna Meningkatkan Produktivitas Lahan. Yayasan PROSEA. Bogor.
Widjaja, E.A, Artiningsih, T., Irawati,
Noerdjito, W.A., Widjaja, Elizabeth A. 2001.Identikit
jenis-jenis bambu di Jawa. Balai Penelitian Botani, Bogor. 101 halaman.
Kamis, 24 Maret 2016
Tugas Mata Kuliah Arsitektur Pohon Pada Pertemuan Ke-VI
Dosen : Atus Syahbuddin, S.Hut., M.Agr., Ph.D.
Catur Mulyanto (7227)
ARSITEKTUR POHON MODEL KORIBA
Model arsitektur pohon adalah suatu gambaran kenampakan pohon yang merupakan hasil dari pengamatan dalam suatu waktu tertentu. Model arsitektur pada setiap jenis pohon dapat digunakan untuk membedakan jenis pohon lainnya. Variasi model arsitektur pohon memberikan dampak terhadap fungsi dan pohon tersebut dalam ekosistemnya. Dari masing masing jenis memiliki karakteristik yang khas dalam proses pertumbuhannya yang dapat diwariskan secara genetik pada keturunannya. Model arsitektur diterapkan untuk tumbuhan berupa pohon sebagai gambaran dari salah satu proses pertumbuhannya. Bagian-bagian dari arsitektur antara lain pola pertumbuhan batang, percabangan dan pembentukan pucuk terminal.
(Halle at al., 1978) model arsitektur menurut keberadaan cabang dan aksis vegetatifnya diklasifikasikan dalam 4 model utama antara lain :
- Pohon yang tidak bercabang yaitu bagian vegetatif pohon hanya terdiri dari satu aksis dan disusun sebuah meristem soliter.
- Pohon bercabang dengan aksis vegetatif yang ekuivalen dan ortotropik.
- Pohon bercabang dengan aksis vegetatif yang nonekuivalen.
- Pohon bercabang dengan aksis vegetatif campuran yaitu ekuivallen dan nonekuivalen.
Pada model koriba merupakan dalam pohon bercabang dengan aksis vegetatif nonekuivalen. Model koriba memiliki ciri ciri sebagai berikut memiliki batang bercabang tetapi terkadang tak terlihat tidak bercabang, poliaksial, aksis vegetatif tidak ekuivalen dan homogen atau heterogen, cabang plagiotropiknya sedikit, perbungaan terminal yang berfungsi baik, pertumbuhan simpodial, percabangan terbatas, dan bercabang membentuk cabang utama. Contoh dari model koriba adalah Sapium discolor, Alstonia scholaris, Cerbera manghas dan Litsea albayana.
Model koriba memiliki karakter yang paling khas yaitu batang utama dan percabangannya simpodial. arsitektur pohon yang indah akan terlihat bentukan pohonnya menampilkan kenampakan perkembangan zig zag. Selain itu juga dilihat dari tipe pembungaanya yang terminal, secara visual akan memperlihatkan kesan semarak dengan warna bunganya pada permukaan tajuk pohonnya. Bentuk pembungaan yang tidak terbatas (bunga mekar secara bergantian) akan terlihat susunan bunganya menjuntai dimana akan memberikan nilai tambah visual. Tanaman pada model ini sangat mudah dijumpai seperti pada taman kota dikarenakan memiliki fungsi keindahan, lanskap, menyerap CO2 yang lumayan banyak dan bisa juga memiliki fungsi sebagai peneduh dikarenakan memiliki tajuk yang lebar.
Dilihat dari fungsinya maka dapat disimpulkan bahwa tanaman model ini sangat cocok untuk tanaman yang berada di hutan kota, taman kota, perumahan, tempat rekreasi dan wisata. Selain itu juga tanaman model koriba ini sangat mudah ditemukan dan dikembangkan sehingga untuk mengembangkan anakannyapun juga terbilang mudah. Selain itu juga tanaman jenis model ini memberikan manfaat lainnya yaitu berupa kayu maupun buah yang dihasilkan.
Arsitektur pohon dan pemilihan jenis sangat menentukan keberhasilan jika suatu saat membuat rancangan suatu desain yang tepat.
![]() |
| Alstonia scholaris |
![]() |
| Cerbera manghas |
![]() |
| Sapium discolor |
Daftar Pustaka:
Halle, F.,R.A.A, Oldeman
and P.B.Tomlinson.1978.Tropical Trees and Forest, An Architectural
Analysis.
Springer-verlag. Germany. 441 p.
Langganan:
Postingan (Atom)



